![]() |
| ket : Dari Abu Kebakaran 2015, Warga Bangkit Pulihkan Gambut Intuyut, Kini Terbakar Lagi |
Kabarsambas.com - Harapan warga Desa Tri Mandayan, Kabupaten Sambas, untuk memulihkan kawasan gambut kembali diuji. Tanaman revegetasi yang baru berusia kurang dari tiga tahun di Taman Ekowisata Gambut Intuyut hangus terbakar dalam kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada 2026.
Tanaman yang sebelumnya dirawat melalui berbagai upaya
pemulihan ekosistem tersebut kini tersisa menjadi abu. Kondisi itu menjadi
pukulan bagi warga yang selama bertahun-tahun berupaya mempertahankan kawasan
gambut di wilayah tersebut.
Ketua Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Intuyut Jaya
Lestari Tri Mandayan, Teo Iswandi, mengatakan kawasan Hutan Intuyut merupakan
salah satu kawasan yang masih tersisa setelah kebakaran hebat melanda Kecamatan
Teluk Keramat pada 2015 hingga 2019.
“Sejak kebakaran yang sangat hebat satu dekade lalu, kami
pemuda bersama warga, didukung oleh lembaga Gemawan, NGO CAN, dan Badan
Restorasi Gambut dan Mangrove, berinisiatif menjaga kawasan hutan yang tersisa
itu di wilayah KHG Sungai Sambas Besar-Sungai Seiung,” kata Teo, Minggu
(13/9/2026).
Menurutnya, berbagai upaya dilakukan KUPS bersama para
pemangku kepentingan untuk menjaga kawasan tersebut tetap lestari sekaligus
mengembalikan fungsi ekologis gambut.
Langkah yang dilakukan tidak hanya melalui penanaman
kembali, tetapi juga pembasahan gambut dengan membangun canal blocking semi
permanen.
“Upaya yang kami lakukan untuk menjaga dan melestarikan
kawasan tersebut mulai dari penanaman kembali atau revegetasi sampai pembasahan
gambut yaitu membangun canal blocking semi permanen, dengan tujuan untuk
mengembalikan tutupan vegetasi dan fungsi ekologis hutan gambut,” jelasnya.
Pada 2023, KUPS Intuyut Jaya Lestari mendapat dukungan dari
Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) untuk melakukan revegetasi di
kawasan Taman Ekowisata Gambut Intuyut dengan luas sekitar 15 hektare.
Revegetasi dilakukan dengan sejumlah metode, mulai dari
penanaman jenis tanaman lokal atau endemik, pengayaan tanaman (enrichment
planting), hingga paludikultur yang menyesuaikan jenis tanaman dengan
karakteristik ekosistem gambut.
Namun, upaya tersebut kembali terpukul ketika kebakaran
melanda kawasan itu pada 2026. Tanaman yang baru tumbuh dan dirawat selama
beberapa tahun tidak luput dari kobaran api.
“Namun, pada tahun 2026 tanaman kami kembali habis, hangus
menjadi abu arang tak tersisa. Kami sangat merasa berduka cita, kecewa dan
merasa gagal dalam menjaga hutan kami,” kesal Teo.
Meski kecewa, Teo memastikan semangat kelompoknya untuk
memulihkan kawasan gambut tidak berhenti. Bersama warga dan para pihak yang
selama ini terlibat, mereka bertekad kembali membangun tutupan vegetasi di
kawasan tersebut.
Ia berharap pemerintah memberikan perhatian lebih serius
terhadap penanganan karhutla, terutama di kawasan gambut yang memiliki
karakteristik dan fungsi ekologis penting.
“Harapan kami kepada pemerintah sangat besar agar lebih
serius menangani karhutla di area gambut. Kami sangat berharap ada lembaga
khusus atau badan khusus yang menangani kerusakan ekosistem gambut agar dapat
lebih fokus dan serius,” harapnya.
Teo juga mengingatkan masyarakat bahwa gambut memiliki peran
penting bagi kehidupan dan lingkungan. Karena itu, menjaga gambut dinilai bukan
hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga seluruh masyarakat.
“Kita pulihkan ekosistem gambut. Gambut untuk dijaga, bukan
untuk dirusak. Gambut tidak jahat, hanya tangan manusia serakah yang jahat
untuk merusak gambut dengan cara dibakar,” tutupnya. (Sai)
.jpeg)