![]() |
| ket : Karhutla Sambas Naik 46,78 Persen, 10 Desa Masih Dilanda Kebakaran |
Kabarsambas.com - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Sambas mengalami lonjakan signifikan sepanjang Agustus 2026. Kondisi tersebut semakin menjadi perhatian karena hingga kini masih terdapat sejumlah desa yang menghadapi karhutla.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten
Sambas, Niza Azwarita, mengatakan berdasarkan data yang dimiliki pihaknya,
luasan karhutla pada Agustus mengalami peningkatan hingga 46,78 persen.
“Jadi di Kabupaten Sambas per Agustus, dari 1 Agustus sampai
31 Agustus, lonjakan luas karhutla itu naik 46,78 persen,” kata Niza.
Ia menyebut, hingga saat ini terdapat 10 desa yang masih
mengalami karhutla. Salah satu lokasi yang menjadi perhatian adalah Desa
Tepapan Hulu, tempat tim gabungan saat ini melakukan penanganan kebakaran.
“Jadi sampai dengan hari ini ada 10 desa yang mengalami
karhutla. Jadi sekarang kami berada di Desa Tepapan Hulu dan memang kondisinya,
luasannya luas sekali,” ujarnya.
Sebelumnya, tim juga melakukan penanganan karhutla di desa
Tri mandayan. Di wilayah tersebut, luas lahan yang terbakar diperkirakan
mencapai 120 hektare. Sementara untuk Tepapan Hulu, BPBD masih melakukan
pemetaan untuk mengetahui luasan lahan yang terdampak.
“Kemarin kami di Tri mandayan bersama Bapak Bupati Sambas.
Di Tri mandayan juga parah, 120 hektare yang terbakar. Nah kalau yang di
Tepapan Hulu ini, kita baru naikkan drone tadi, belum sempat kita hitung
luasannya,” jelas Niza.
Menurutnya, penanganan karhutla dilakukan secara
bersama-sama oleh tim gabungan. Sebelum melakukan pemadaman, petugas terlebih
dahulu memetakan kondisi lokasi, termasuk menentukan titik api, jarak menuju
sumber air serta kebutuhan peralatan.
“Jadi penanganannya kita bersama-sama tim. Kita petakan dulu
kondisinya seperti apa. Kemudian baru kita lihat sumber airnya berapa jaraknya,
dibutuhkan berapa selang, dibutuhkan berapa alat,” katanya.
Niza menegaskan, pemadaman tidak bisa dilakukan secara
sembarangan tanpa mengetahui posisi kepala api dan akses menuju sumber air.
“Jadi kita tidak langsung datang madam-madam begitu saja.
Kita petakan dulu. Yang kita kejar itu kepala apinya. Jadi jaraknya ke sumber
air itu seperti apa,” ungkapnya.
Persoalan terbesar yang dihadapi petugas di lapangan saat
ini adalah keterbatasan sumber air. Sejumlah sumber air yang sebelumnya dapat
digunakan mulai mengering akibat kemarau panjang.
“Yang jelas pertama adalah air, sumber airnya memang kurang.
Jadi sumber air kurang, memang kita perlu tahu dulu titik kepala apinya di
mana,” ujarnya.
Ia mencontohkan kondisi di Tri mandayan. Beberapa lokasi
masih memiliki sumber air, namun di Dusun Sayong Sebadi, petugas justru harus
membuat embung karena sumber air sulit ditemukan.
“Kalau di Tri mandayan kemarin memang ada lokasi yang ada
air. Karena berbagi-bagi ya, di Dusun Sayong Sebadi itu malah tidak ada air. Di
sana kita bikin embung, digali baru ada airnya,” jelas Niza.
Selain keterbatasan air, persoalan lain yang dihadapi adalah
minimnya peralatan pemadaman. Menurut Niza, jumlah peralatan gabungan yang
dimiliki Kodim, Polres, BPBD, Manggala Agni dan KPH belum sebanding dengan luas
wilayah karhutla yang harus ditangani.
“Peralatan otomatis kita sangat-sangat minim. Kalau dilihat
dari kondisi luas Kabupaten Sambas, 2.318,48 hektare, itu dengan jumlah
peralatan gabungan antara Kodim, Polres, BPBD, Manggala Agni, KPH, itu
jumlahnya sangat-sangat jauh,” katanya.
Peralatan yang paling dibutuhkan saat ini, kata Niza, antara
lain mesin dan selang. Kebutuhan selang menjadi penting karena banyak titik api
berada cukup jauh dari sumber air.
“Jadi peralatan, mesin maupun selang, terutama selang yang
kita butuhkan,” ujarnya.
BPBD Sambas juga telah berkoordinasi dengan Badan Nasional
Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk mendapatkan tambahan bantuan selang guna
mendukung pemadaman di lokasi yang sumber airnya cukup jauh.
“Kami sudah berkoordinasi juga dengan BNPB, kita minta
bantuan selang, karena sumber airnya jauh,” ungkap Niza.
Untuk dukungan udara, BPBD juga telah mengusulkan bantuan
pesawat water bombing. Namun, kondisi jarak pandang menjadi kendala sehingga
pesawat belum dapat masuk ke wilayah Kabupaten Sambas.
“Nah untuk pesawat water bombing juga kita sudah minta
bantuan. Cuma karena jarak pandang, masalah jarak pandang ini, karena kabut
asap, itu menjadi kendala, pesawat tidak bisa masuk ke Kabupaten Sambas,”
jelasnya.
Sementara itu, operasi modifikasi cuaca (OMC) telah
dilakukan untuk membantu meningkatkan potensi hujan. Niza menyebut pesawat OMC
sempat dikirim ke wilayah Kabupaten Sambas dan menyemai garam di awan.
“Tapi kalau untuk pesawat OMC itu bisa saja. Kemarin sore
kita dikirim pesawat OMC, makanya ada hujan di beberapa tempat. Itu karena ada
pesawat OMC yang menyemai garam di awan di Kabupaten Sambas,” katanya.
Di tengah keterbatasan tersebut, dukungan masyarakat salah
satunya dari karang taruna sambas terhadap petugas yang berada di lapangan
dinilai sangat berarti. Para petugas telah berhari-hari berjibaku dengan api
sehingga membutuhkan dukungan logistik dan asupan tambahan.
“Alhamdulillah ya, terimakasih kepada karang taruna sambas
memang kami sangat membutuhkan, terutama petugas. Petugas sudah berhari-hari
berjibaku dengan api, membutuhkan vitamin, membutuhkan makanan tambahan,” ujar
Niza.
Niza berharap kepedulian serupa terus bermunculan, termasuk
dari Karang Taruna dan berbagai elemen masyarakat lainnya. Menurutnya, dukungan
tersebut sangat dibutuhkan mengingat petugas harus bekerja siang dan malam
dalam waktu yang cukup panjang.
“Jadi Alhamdulillah masih ada seperti beliau-beliau inilah
yang kita harapkan dan juga Karang Taruna. Kita harapkan lebih banyak lagi
bantuan, karena memang sangat dibutuhkan,” ungkapnya.
Ia berharap perhatian masyarakat terhadap petugas terus
diberikan selama proses penanganan karhutla berlangsung.
“Karena petugas sudah siang malam, kemudian berhari-hari
sudah di hutan. Itu memang kita berharap perhatian dari masyarakat,” pungkas
Niza.(Sai)
