![]() |
| Ket : Sekretaris HNSI Sambas Dampingi DPD HNSI Kalbar Bahas BBM Nelayan dengan Pertamina |
Kabarsambas.com - Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kalimantan Barat melaksanakan kunjungan silaturahmi dan koordinasi ke Kantor Pertamina Patra Niaga Sales Area Retail Kalimantan Barat sebagai bagian dari upaya memperkuat sinergi dalam mendukung keberlanjutan sektor perikanan tangkap serta peningkatan kesejahteraan nelayan di Kalimantan Barat.
Kunjungan tersebut dipimpin langsung oleh Ketua DPD HNSI
Kalimantan Barat, Eka Raharjo, S.Pi., M.Si., didampingi oleh Amirudin,
Sekretaris DPC HNSI Kabupaten Sambas, bersama jajaran pengurus DPD HNSI
Kalimantan Barat. Rombongan diterima oleh jajaran manajemen Pertamina Patra
Niaga Sales Area Retail Kalimantan Barat dalam suasana penuh keakraban,
keterbukaan, dan semangat membangun kolaborasi.
Pertemuan ini menjadi momentum penting bagi HNSI untuk
menyampaikan berbagai aspirasi nelayan, khususnya terkait kebutuhan Bahan Bakar
Minyak (BBM) yang merupakan komponen utama dalam mendukung aktivitas
penangkapan ikan. Aspirasi tersebut berasal dari nelayan di sejumlah wilayah
pesisir Kabupaten Sambas, meliputi Kecamatan Paloh, Kecamatan Jawai dan
sekitarnya, Kecamatan Selakau, serta Kecamatan Pemangkat.
Dalam kesempatan tersebut, Amirudin, Sekretaris DPC HNSI
Kabupaten Sambas, menjelaskan bahwa kebutuhan BBM bagi nelayan di Kabupaten
Sambas saat ini masih menjadi tantangan yang memerlukan perhatian bersama. Di
beberapa wilayah, kuota BBM yang diterima nelayan belum sepenuhnya mampu
memenuhi kebutuhan operasional melaut.
"Sebagai contoh, di Kecamatan Paloh terdapat nelayan
yang hanya memperoleh sekitar 11 liter BBM untuk sekali pengisian, sementara
kebutuhan operasional melaut jauh lebih besar. Kondisi serupa juga dirasakan
oleh nelayan di Kecamatan Jawai dan sekitarnya yang masih menghadapi
keterbatasan kuota BBM. Sementara itu, nelayan di Kecamatan Selakau juga
berharap jadwal penyaluran BBM dapat berlangsung lebih teratur sehingga
memudahkan mereka dalam merencanakan aktivitas melaut. Seluruh aspirasi
tersebut kami sampaikan kepada Pertamina sebagai bahan masukan agar ke depan
dapat dicarikan solusi terbaik sesuai dengan ketentuan yang berlaku,"
jelas Amirudin.
Ia menambahkan bahwa keterbatasan kuota BBM yang diterima
nelayan berdampak langsung terhadap meningkatnya biaya operasional penangkapan
ikan. Ketika kuota BBM yang diperoleh belum mencukupi kebutuhan melaut,
sebagian nelayan terpaksa mencari tambahan BBM dari sumber lain dengan harga
yang lebih tinggi. Di lapangan, harga BBM yang diperoleh dapat mencapai sekitar
Rp15.000 per liter, bahkan dalam kondisi tertentu bisa lebih tinggi tergantung
ketersediaan pasokan.
"Kondisi tersebut tentu sangat dirasakan oleh nelayan
karena biaya operasional semakin meningkat. Sementara itu, hasil tangkapan di
laut tidak selalu dapat dipastikan. Ada kalanya biaya yang dikeluarkan lebih
besar dibandingkan hasil yang diperoleh. Namun, demi memenuhi kebutuhan hidup
dan menghidupi keluarga, para nelayan tetap berupaya melaut meskipun harus
menghadapi berbagai keterbatasan," ujarnya.
Amirudin menegaskan bahwa HNSI memandang BBM sebagai jantung
aktivitas nelayan. Oleh karena itu, HNSI berharap adanya penyesuaian atau
penambahan kuota BBM di wilayah yang benar-benar membutuhkan, dengan tetap
mengacu pada data riil dan ketentuan yang berlaku sehingga penyalurannya tetap
tepat sasaran.
Untuk mendukung usulan tersebut, HNSI Kabupaten Sambas telah
berkoordinasi dengan Dinas Perikanan Kabupaten Sambas dalam melakukan pendataan
kapal-kapal nelayan beserta kebutuhan operasionalnya. Pendataan ini bertujuan
menghasilkan basis data yang akurat mengenai jumlah kapal aktif, kapasitas
kapal, serta kebutuhan BBM setiap nelayan.
"Hasil pendataan tersebut nantinya akan kami sampaikan
kepada Pertamina dan BPH Migas sebagai bahan informasi mengenai kebutuhan riil
BBM nelayan di Kabupaten Sambas. Kami berharap proses pendataan ini dapat
segera diselesaikan sehingga menjadi dasar dalam penyusunan kebijakan
penambahan kuota BBM yang lebih tepat sasaran. Dukungan Pemerintah Daerah juga
sangat kami harapkan agar usulan penambahan kuota BBM bagi nelayan dapat
diperjuangkan secara bersama-sama," tambahnya.
Selain persoalan kuota BBM, HNSI juga menyampaikan harapan
agar pembangunan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum Nelayan (SPBUN) dapat
diperluas di wilayah-wilayah pesisir yang memiliki aktivitas perikanan cukup
tinggi.
Saat ini Kabupaten Sambas baru memiliki tiga SPBUN, yaitu
satu unit di Kecamatan Selakau dan dua unit di Kecamatan Pemangkat. Sementara
itu, Kecamatan Paloh serta Kecamatan Jawai dan sekitarnya hingga kini belum
memiliki SPBUN, padahal kedua wilayah tersebut memiliki potensi perikanan
tangkap yang besar.
HNSI berharap pembangunan SPBUN dapat terus dikembangkan
sehingga akses nelayan terhadap BBM menjadi lebih mudah dan efisien. Selain
badan usaha, HNSI juga berharap koperasi-koperasi nelayan yang memenuhi
persyaratan dapat diberikan kesempatan untuk mengelola SPBUN. Di samping itu,
HNSI mengusulkan agar setiap kawasan Kampung Nelayan Merah Putih ke depan juga
didukung dengan keberadaan SPBUN sebagai salah satu infrastruktur strategis
yang dapat menunjang aktivitas ekonomi masyarakat pesisir dan sejalan dengan
program prioritas pemerintah dalam memperkuat sektor kelautan dan perikanan.
Ketua DPD HNSI Kalimantan Barat, Eka Raharjo, S.Pi., M.Si.,
menegaskan bahwa pertemuan ini merupakan bagian dari komitmen HNSI dalam
membangun komunikasi yang baik dengan seluruh pemangku kepentingan.
"HNSI meyakini bahwa penguatan sektor kelautan dan
perikanan membutuhkan kolaborasi yang erat antara nelayan, Pertamina,
pemerintah daerah, pemerintah pusat, BPH Migas, dan organisasi nelayan. Dengan komunikasi
yang terbuka, didukung data yang akurat, berbagai tantangan yang dihadapi
nelayan diharapkan dapat dicarikan solusi secara bertahap dan
berkelanjutan," ungkapnya.
Pihak Pertamina Patra Niaga Kalimantan Barat menyambut baik
kunjungan tersebut dan mengapresiasi penyampaian aspirasi yang dilakukan HNSI
secara konstruktif. Pertamina menegaskan komitmennya untuk terus membuka ruang
komunikasi dengan seluruh pemangku kepentingan dalam rangka meningkatkan
kualitas pelayanan energi kepada masyarakat, termasuk nelayan.
Melalui silaturahmi dan koordinasi ini, HNSI berharap
terjalin sinergi yang semakin kuat antara organisasi nelayan, Pertamina,
pemerintah daerah, BPH Migas, dan seluruh pemangku kepentingan. Dengan kerja
sama yang baik, didukung data yang valid serta komunikasi yang berkelanjutan,
diharapkan kebutuhan BBM nelayan dapat semakin terpenuhi sehingga nelayan dapat
menjalankan aktivitas penangkapan ikan secara lebih produktif.
"Nelayan merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga
ketahanan pangan nasional di sektor kelautan dan perikanan. Karena itu,
dukungan terhadap kebutuhan energi bagi nelayan bukan hanya menjadi upaya
meningkatkan kesejahteraan mereka, tetapi juga merupakan investasi strategis
dalam memperkuat ekonomi pesisir, menjaga keberlanjutan sektor perikanan, dan
mendukung terwujudnya swasembada pangan dari laut," tutup Amirudin.
(Sai).
.jpg)