PLB Temajuk Dibuka, HNSI Sambas Dorong Hasil Perikanan Tembus Pasar Sarawak

Editor: Admin author photo

ket : PLB Temajuk Dibuka, HNSI Sambas Dorong Hasil Perikanan Tembus Pasar Sarawak

Kabarsambas.com - Dibukanya akses Pos Lintas Batas (PLB) Sajingan dan PLB Temajuk mendapat apresiasi dari Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Sambas.


Sekretaris HNSI Kabupaten Sambas, Amirudin, menilai pengembangan kawasan perbatasan di bawah kepemimpinan Satono-Hero bukan sekadar membuka jalur mobilitas masyarakat, tetapi juga dapat menjadi momentum untuk memperluas pasar dan menggerakkan ekonomi pesisir.


Menurutnya, PLB Temajuk memiliki posisi strategis untuk membuka peluang pemasaran hasil perikanan Sambas ke pasar yang lebih luas, termasuk potensi perdagangan lintas batas dengan Sarawak, Malaysia.


“Kami dari HNSI Sambas memberikan apresiasi terhadap langkah pemerintah daerah yang terus membuka akses dan mengembangkan wilayah perbatasan. Bagi kami, PLB Temajuk bukan hanya pintu keluar-masuk masyarakat, tetapi juga dapat menjadi pintu ekonomi baru bagi nelayan dan pelaku usaha perikanan Sambas,” ujar Amirudin.


Ia mengatakan, salah satu persoalan yang selama ini dihadapi nelayan adalah keterbatasan akses pasar. Hasil tangkapan harus segera dijual sehingga nelayan kerap berada dalam posisi tawar yang lemah.


Dengan akses pasar yang semakin terbuka, komoditas seperti ikan laut, udang, kepiting, cumi-cumi dan rajungan berpeluang dipasarkan lebih luas, tentunya dengan memenuhi ketentuan perdagangan, karantina, keamanan pangan dan regulasi ekspor.


“Kalau akses pasar semakin dekat, maka peluang nelayan mendapatkan harga yang lebih kompetitif juga semakin besar. Ketika akses pasar bertambah, posisi tawar nelayan bisa meningkat,” jelasnya.


Amirudin menilai manfaat pembukaan akses perbatasan juga tidak hanya akan dirasakan pemilik kapal. Aktivitas ekonomi diperkirakan turut menggerakkan buruh nelayan, pengumpul ikan, pedagang, pengolah hasil perikanan, penyedia es, cold storage, transportasi hingga pelaku UMKM.


HNSI mendorong agar peluang tersebut tidak berhenti pada aktivitas jual beli ikan. Kawasan Temajuk perlu diarahkan menjadi ekosistem perikanan yang memiliki fasilitas penyimpanan, pengolahan, pengemasan dan distribusi.


“Yang harus kita lihat bukan hanya berapa ton ikan yang keluar. Dampak ekonominya jauh lebih luas. Ketika perdagangan meningkat, otomatis akan muncul kebutuhan terhadap jasa transportasi, gudang, pengolahan, tenaga kerja, perbankan, kuliner, penginapan dan berbagai usaha pendukung lainnya,” katanya.


Namun, HNSI mengingatkan agar nelayan tetap menjadi pihak yang mendapatkan manfaat utama dari terbukanya peluang ekonomi tersebut.


Menurut Amirudin, penguatan koperasi, kelompok usaha nelayan, akses pembiayaan, peningkatan kualitas hasil tangkapan serta fasilitas pascapanen menjadi bagian penting yang perlu disiapkan.


“Nelayan harus ditempatkan sebagai pelaku utama. Kalau harga ikan meningkat karena pasar semakin luas, maka peningkatan pendapatan tersebut harus sampai kepada nelayan,” tegasnya.


Ia juga mendorong pengembangan industri pengolahan hasil perikanan agar nilai tambah komoditas tidak seluruhnya keluar dari Sambas.


Produk seperti ikan beku, fillet, ikan kering, abon ikan hingga berbagai olahan seafood dinilai dapat menjadi peluang usaha baru bagi masyarakat.


“Jangan hanya berpikir ikan ditangkap lalu dijual. Ke depan kita harus berpikir bagaimana ikan tersebut diolah menjadi produk bernilai tambah. Dengan begitu, nilai ekonomi yang tinggal di Sambas semakin besar,” ujarnya.


Selain perikanan, Temajuk juga memiliki potensi pariwisata dan ekonomi kreatif. HNSI melihat sektor tersebut dapat dikembangkan beriringan dengan perdagangan, perikanan, UMKM dan logistik.


“Temajuk memiliki laut, pantai, perikanan dan posisi geografis yang strategis. Kalau semua potensi itu dikembangkan secara terintegrasi, Temajuk bukan hanya menjadi kawasan perbatasan, tetapi bisa menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi baru Kabupaten Sambas,” kata Amirudin.


Untuk memaksimalkan peluang tersebut, HNSI mendorong pemerintah memperkuat infrastruktur pendukung, mulai dari konektivitas transportasi, fasilitas perikanan, cold storage, pabrik es, fasilitas pengolahan, layanan karantina, sistem logistik hingga akses pembiayaan bagi nelayan dan UMKM.


“Pembukaan pintu perbatasan adalah langkah awal. Selanjutnya kita harus memastikan infrastrukturnya siap, sumber daya manusianya siap, nelayannya siap dan pelaku usahanya siap,” ungkapnya.


HNSI Kabupaten Sambas menyatakan siap bersinergi dengan pemerintah dalam mendorong pengembangan kawasan perbatasan yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat pesisir.


“Harapan kami, dengan dibukanya PLB Sajingan dan Temajuk, Sambas tidak hanya menjadi daerah perbatasan, tetapi menjadi daerah yang mampu memanfaatkan posisi strategis tersebut untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Nelayan kuat, perikanan maju, ekonomi masyarakat tumbuh, dan Sambas semakin bermartabat di kawasan perbatasan,” pungkas Amirudin. (Sai)

Share:
Komentar

Berita Terkini