-->

Kasus Burung Bayan, Jumardi Korban ketidakpahaman Hukum

Editor: Admin author photo

Foto: Igbal Hakim

Kabarsambas.com-Kabar Penangkapan Jumardi (31) warga Dusun Tempukung, Desa Tempatan, Kecamatan Sebawi atas tuduhan menangkap dan menjual burung bayan yang dilindungi membuat gempar masyarakat kabupaten Sambas.


Ketua Umum Ikatan Keluarga Mahasiswa Sambas (IKMAS) Pontianak, Iqbal Halim merasa tidak sepakat terkait keputusan untuk melakukan penangkapan oleh Tim BKSDA kepada Jumardi atas kesalahan tersebut.


"Kami selaku mahasiswa tidak setuju atas tindakan yang diambil oleh BKSDA Kalbar atas penangkapan Jumardi dengan dasar tuduhan melakukan transaksi juak beli burung bayan walaupun satwa yang dilindungi," ucapnya.


Diketahui Jumardi dibawa ke Pontianak pada Kamis, 11/02/20 oleh Tim BKSDA. Pada saat hendak melakuakan transaksi dengan konsumen di Tugu Limau, Kecamatan Tebas, ternyata bukan dari Konsumen tetapi Tim BKSDA Prov Kalbar. Jumardi langsung dibawa ke Pontianak untuk dilaporkan dan menjalankan pemeriksaan di Polda Kalbar. 

 


Iqbal Halim juga mengatakan dengan tegas bahwa masyarakat masih banyak yang awam dan minim pengetahuan maupun edukasi tentang satwa-satwa yang dilindungi maupun tidak termasuk burung bayan tersebut.


"Banyak sekali dari masyarakat awam yang masih minim pengetahuan tentang jenis-jenis satwa yang dilindungi maupun tidak. Karena sampai saat ini belum ada pendekatan yang dilakukan oleh pihak BKSDA Kalbar untuk sosialisasi atau seminar kepada masyarakat," jelasnya.


IKMAS Pontianak terus berharap agar BKSDA kembali mempertimbangkan tindakan yang telah dilakukan dan mengambil jalan keluar yang terbaik untuk kedua belah pihak.


"Kami segenap mahasiswa yang tergabung di IKMAS Pontianak sangat berharap kepada BKSDA agar mempertimbangkan lagi keputusan yang telah diambil dan lebih memperhatikan sisi kemanusiaan dari bapak Jumardi. Kami juga berpendapat bahwa penangkapan burung bayan yang dilakukan bapak Jumardi bukan dengan unsur kesengejaan melainkan hal tersebut murni karena kurangnya pengetahuan tentang satwa yang dilindungi," ungkapnya.


Pihaknya juga meminta BKSDA harus mengevaluasi kinerja mereka agar hal yang sama tidak terulang kembali dan tidak ada lagi satwa liar yang diburu akibat kurangnya pengetahuan dari masyarakat.


"Sebaiknya BKSDA juga melihat kebelakang mengenai kinerja mereka selama ini, karna kurangnya sosialisasi kepada masyarakat yang mengakibatkan kejadian seperti ini. Apalagi untuk kasus tersebut terjadi diperbatasan Kalbar dengan minimnya akses dan pendekatan dari pihak Pemprov Kalbar. Ini juga merupakan tugas kita bersama dan kami sebagai mahasiswa juga siap membantu BKSDA untuk melakukan kampanye mengenai konservasi sumber daya alam," Pungkasnya. (Sai)

Share:
Komentar

Berita Terkini