![]() |
| Ket: Bupati Satono Minta Pelaksana MBG Tak Saling Menyalahkan, Utamakan Evaluasi dan Perbaikan |
Kabarsambas.com - Bupati Sambas H. Satono meminta seluruh pihak yang terlibat dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak saling menyalahkan ketika terjadi persoalan di lapangan.
Menurut Satono, setiap masalah dalam pelaksanaan MBG harus
terlebih dahulu ditelusuri penyebabnya melalui evaluasi bersama. Hal itu
penting karena proses penyediaan makanan melibatkan banyak unsur, mulai dari
mitra, pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), ahli gizi, juru masak,
relawan hingga pemasok bahan pangan.
“Ketika terjadi persoalan, penyebabnya harus dilihat
terlebih dahulu. Jangan langsung mitra yang disalahkan. Semua harus mengawal
proses dari awal agar kejadian yang tidak diinginkan dapat dicegah,” kata
Satono saat memimpin rapat koordinasi MBG di Aula Utama Kantor Bupati Sambas,
Selasa (15/9/2026).
Rapat tersebut diikuti aparat keamanan, Badan Gizi Nasional
(BGN), mitra dan pengelola SPPG. Evaluasi difokuskan pada keamanan pangan,
pemerataan penerima manfaat, keberlangsungan operasional dapur hingga
pengawasan penggunaan anggaran negara.
Satono mengatakan, keberhasilan program MBG membutuhkan
kolaborasi seluruh pihak. Ia juga mengapresiasi para mitra yang telah
menyediakan lahan, membangun dapur, menyiapkan peralatan serta menginvestasikan
aset untuk mendukung pelaksanaan program di Kabupaten Sambas.
“Program pemerintah tidak akan berhasil tanpa partisipasi
seluruh komponen dan tanpa mitra yang berkomitmen membersamai pemerintah,”
ujarnya.
Meski meminta agar tidak saling menyalahkan, Satono
menegaskan seluruh pihak tetap memiliki tanggung jawab dalam menjaga kualitas
makanan. Pengawasan harus dilakukan sejak bahan baku diterima, proses
pengolahan, pengemasan hingga makanan didistribusikan kepada penerima manfaat.
Ia juga menyoroti dampak penghentian sementara atau suspend
terhadap operasional SPPG. Selain berpengaruh terhadap penerima manfaat,
penghentian dapur juga berdampak kepada relawan dan pemasok bahan pangan
seperti beras, ayam, telur, ikan, sayuran, buah-buahan serta produk pangan
lainnya.
Karena itu, Satono mendorong agar perbaikan SPPG dilakukan
secepat mungkin apabila ditemukan kekurangan, namun tetap mengutamakan keamanan
dan kesehatan penerima manfaat.
Koordinator Wilayah MBG/SPPG Kabupaten Sambas, Dzaki
Brayogi, menjelaskan suspend merupakan bagian dari mekanisme perbaikan.
Penghentian sementara tidak otomatis berarti pengelola dinyatakan bersalah.
“Dapurnya dihentikan sementara, kemudian diperbaiki. Apabila
sudah sesuai, operasional dapat dijalankan kembali. Suspend bukan untuk
menyalahkan dapur, tetapi untuk melakukan perbaikan,” jelas Dzaki.
Sementara itu, Kapolres Sambas AKBP Sanny Handityo
menegaskan keamanan pangan harus menjadi prioritas dalam pelaksanaan MBG.
“Tujuan MBG adalah agar anak-anak menerima gizi yang baik
dan sehat, bukan justru mengalami gangguan kesehatan,” tegasnya.
Sanny mengingatkan pengelola agar tidak mengurangi kualitas,
berat maupun jumlah makanan demi memperoleh keuntungan lebih besar. Pengawasan
juga mencakup bahan baku, harga, gramasi, spesifikasi makanan hingga dokumen
pertanggungjawaban.
Menurutnya, potensi makanan rusak dapat muncul dari berbagai
faktor, antara lain waktu memasak yang tidak tepat, makanan panas langsung
dimasukkan ke wadah tertutup, distribusi yang melewati batas aman, pengendalian
suhu yang lemah hingga penggunaan bahan baku yang tidak layak.
Kebersihan dapur dan akses ke ruang produksi juga diminta
diperketat. Orang yang tidak berkepentingan tidak diperbolehkan masuk ke area
pengolahan makanan. Sementara pihak yang berkepentingan wajib mengikuti
prosedur kebersihan dan menggunakan perlengkapan pelindung.
Dari sisi cakupan, hingga 14 September 2026 program MBG di
Kabupaten Sambas telah menjangkau 129.790 penerima manfaat atau sekitar 76,6
persen dari total potensi 169.402 orang.
Artinya, masih terdapat sekitar 39.612 penerima manfaat yang
belum terjangkau.
Saat ini terdapat 60 SPPG di Kabupaten Sambas. Sebanyak 59
unit telah beroperasi, sementara satu unit belum beroperasi. Seluruh kecamatan
juga telah memiliki minimal satu SPPG.
Program MBG di Sambas yang mulai berjalan sejak 17 Februari
2025 tersebut telah melibatkan 2.454 relawan. Rekrutmen relawan diprioritaskan
bagi masyarakat kelompok kesejahteraan desil 1 dan 2 serta, dalam kondisi
tertentu, desil 3.
Dari 59 SPPG yang beroperasi, seluruhnya telah memiliki
Sertifikat Laik Higiene Sanitasi. Sebanyak 34 SPPG telah mengantongi sertifikat
halal dan 30 SPPG memiliki juru masak bersertifikat.
Pemerintah juga menyiapkan perluasan layanan. Tercatat 32
SPPG masih dalam tahap persiapan, dua unit telah menjalani survei lapangan dan
26 rencana SPPG diarahkan untuk wilayah terpencil.
Pemkab Sambas menargetkan seluruh potensi penerima manfaat
dapat terlayani pada akhir 2026 atau paling lambat awal 2027. Wilayah terpencil
dan daerah dengan angka stunting tinggi diharapkan menjadi prioritas dalam
perluasan layanan.
Rapat koordinasi tersebut sekaligus menegaskan bahwa
keberhasilan MBG bukan hanya soal jumlah makanan yang dibagikan. Keamanan
pangan, ketepatan sasaran, kualitas makanan, keberlanjutan operasional SPPG dan
akuntabilitas anggaran menjadi bagian yang harus dijaga bersama. (Sai)
.jpeg)